Executive Summary

 

  1. Pengantar

Penelitian Kajian Pembuatan dan Pengukuran Indeks Kesejahteraan dan Kebahagiaan End User Penerima Pinjaman/Pembiayaan Dana Bergulir ini bertujuan untuk mengukur kondisi dan dari penerima manfaat program pembiayaan LPDB. Selanjutnya, kajian ini juga akan melengkapi monitoring and evaluation dari program LPDB yang sudah berjalan selama ini. Dalam melakukan pengukuran tingkat kesejahteraan, penelitian membagi indeks kesejahteraan end-user LPDB ke dalam dua jenis, yaitu kesejahteraan individu dan kesejahteraan nasabah.Indeks kesejahteraan individu diukur untuk melihat bagaimana kondisi kesejahteraan rumah tangga penerima pinjaman. Sementara Indeks Kesejahteraan Usaha fokus pada indikator-indikator kesejahteraaan usaha dari end-user.

Secara garis besar penelitian ini mengambil sampel dari daerah yang mendapatkan penyaluran biaya LPDB terbesar, yaitu Surabaya (Jawa Timur) dengan jumlah 125 sampel, Semarang (Jawa Tengah) dengan jumlah 125 sampel, Denpasar (Bali) dengan jumlah 125 sampel, Bandar Lampung (Lampung) dengan jumlah 112 sampel.

Pengukuran indeks kesejahteraan individu mengadopsi metodologi pengukuran Multidimensional Poverty Index (MPI) yang dikembangkan oleh Oxford Poverty and Human Development Initiative (OPHI) bekerjasama dengan United Nations Development Programme’s Human Development Report Office (Alkire dan Santos 2010, 2017;UNDP 2010). MPI menilai tingkat kemiskinan pada level individual. Jika seseorang tidak memenuhi sepertiga atau lebih dari sepuluh indikator tersebut, maka indeks akan mengidentifikasi individu tersebut sebagai ‘MPI poor’ atau miskin berdasarkan standar MPI.

Pada kajian ini, untuk mengukur tingkat kesejahteraan end-user secara individu digunakan tiga dimensi seperti yang dikemukakan dalam MPI yaitu dimensi kesehatan, pendidikan, dan standar hidup. Dimensi kesehatan digambarkan oleh empat indikator dan dimensi pendidikan digambarkan oleh satu indikator sebagai berikut: Pengeluaran kesehatan, kematian anak, penggunaan vaksin, pengobatan medis, dan periode sekolah. Sementara dimensi standar hidup diukur melalui enam indikator yaitu bahan bakar yang digunakan untuk memasak, sanitasi, akses air minum, ketersediaan listrik, bahan dasar rumah, dan kepemilikan aset. Selain mengukur tingkat kesejahteraan nasabah secara individu, penelitian ini juga melakukan pengukuran terhadap tingkat kesejahteraan usaha end-user. Indeks ini menggunakan lima dimensi, yaitu: status usaha, sumber daya manusia, kepemilikan aset, keuangan, dan akses ke lembaga keuangan.

  1. Tingkat Kesejahteraan

Indeks kesejahteraan individu dihitung dengan menggunakan bobot tertimbang dari masing-masing dimensi dan indikator. Bobot ditentukan dengan metode analytical hierarchical process (AHP) melalui pelaksanaan focus group discussion dengan pakar di empat kota sampel yaitu Surabaya, Semarang, Lampung, dan Denpasar. Penilaian setiap indikator berkisar antara 0-1 dan nantinya indikator ini akan dikalikan dengan bobot masing-masing sesuai hasil AHP. Setelah diperoleh nilai total hasil perkalian indikator dan bobot maka dapat dilakukan penilaan jika total rata-rata penilaian lebih kecil dari 1/3 atau 0,333 maka seseorang dikatakan tidak sejahtera atau miskin. Sebaliknya, end-user dikatakan sejahtera apabila hasil perkalian antara bobot dengan skor indikatornya berada diatas 2/3 atau 0,667. Angka satu merupakan nilai tertinggi untuk ukuran kesejahteraan sedangkan nilai 0 merupakan nilai terendah. Indeks kesejahteraan individu dihitung dengan melakukan penilaian dari setiap indikator Sama seperti bobot pada indeks kesejahteraan individu, pada Indeks Kesejahteraan Usaha bobot juga diperoleh melalui metode AHP. Dari hasil perhitungan, end-user dikatakan semakin sejahtera apabila nilai indeks mendekati 1 dan sebaliknya semakin tidak sejahtera bila mendekati nilai 0. Secara agregat, indeks dapat dihitung dengan mencari rata-rata nilai indeks dari seluruh sampel. Indeks kebahagiaan dihitung dengan melakukan penilaian dari setiap indikator. Sama seperti bobot pada indeks kesejahteraan individu dan nasabah, pada indeks kebahagiaan bobot juga diperoleh melalui metode AHP.

Setiap peserta FGD memiliki tingkat konsistensi yang berbeda-beda. Oleh karena itu hasil indeks konsistensi masing-masing peserta akan di inverse dan dinormalisasi sehingga menjadi bobot kontribusi dari masing-masing peserta. Semakin konsisten seorang peserta FGD, maka semakin besar kontribusinya terhadap perhitungan bobot indeks.

 

  1. Hasil Analisis dan diskusi dari penelitian Surabaya

Berdasarkan hasil FGD di Surabaya, indikator kesejahteraan usaha mencapai bobot paling besar yakni 36,22%. Kemudian diikuti oleh Indikator Kebahagiaan dengan bobot 35,01%. Hal ini mengimplikasikan bahwa kedua indikator ini lebih penting bagi end-user LPDB daripada indikator terakhir yakni 28,71%. Pada kajian yang dilakukan ini diharapkan indeks dibuat secara regional sehingga dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan dan kebahagiaan di masing-masing daerah.

 

  1. Hasil Analisis dan diskusi dari penelitian Semarang

Berdasarkan hasil FGD yang dilakukan di Semarang didapatkan bahwa indikator kebahagiaan lebih penting jika dibandingkan dengan indikator lain dengan bobot sebesar 44,99%. Sedangkan, indikator kesejahteraan usaha dan kesejahteraan individu hanya memiliki bobot masing-masing sebesar 28,82% dan 26,16%. Pembobotan indikator kebahagian yang besar tersebut dirasa tepat oleh responden FGD Semarang karena kebahagiaan masih menjadi prioritas utama oleh sebagian masyarakat terlepas dari bagaimanapun kondisi kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Meskipun indikator kebahagiaan memiliki bobot yang lebih tinggi dari indikator kesejahteraan, baik indikator kebahagiaan maupun indikator kesejahteraan agregat menunjukkan bobot yang sama pentingnya mendekati perbandingan 50:50. Hal ini menunjukkan bahwa disamping kebahagiaan, kesejahteraan agregat yang terdiri atas kesejahteraan individu dan usaha juga penting dalam menentukan besaran indeks end-user LPDB sehingga peranannya tidak dapat dikesampingkan.

 

  1. Hasil Analisis dan diskusi dari penelitian Lampung

Berdasarkan hasil FGD di Lampung, indikator kesejahteraan individu mencapai bobot paling besar yakni 39,83%. Kemudian diikuti oleh Indikator Kesejahteraan Usaha dengan bobot 35,10%. Hal ini mengimplikasikan bahwa kedua indikator ini lebih penting bagi end-user LPDB daripada indikator terakhir yakni indikator kebahagiaan 25,11%. Pada kajian yang dilakukan ini diharapkan indeks dibuat secara regional sehingga dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan dan kebahagiaan di masing-masing daerah.

 

  1. Hasil Analisis dan diskusi dari penelitian Denpasar

Berdasarkan hasil FGD yang dilakukan di Denpasar didapatkan bahwa indikator kebahagiaan lebih penting jika dibandingkan dengan indikator lain dengan bobot sebesar 51,02%. Sedangkan, indikator kesejahteraan usaha dan kesejahteraan individu hanya memiliki bobot masing-masing sebesar 26,86% dan 22,10%. Pembobotan indikator kebahagian yang besar tersebut dirasa tepat dikarenakan responden Denpasar menganggap bahwa masyarakat Bali merupakan masyarakat yang menilai kebahagiaan merupakan sesuatu yang penting yang bisa didapat dari hal-hal materiil, non-materiil dan spiritual. Meskipun indikator kebahagiaan memiliki bobot yang lebih tinggi dari indikator kesejahteraan, baik indikator kebahagiaan maupun indikator kesejahteraan agregat menunjukkan bobot yang sama pentingnya mendekati perbandingan 50:50. Hal ini menunjukkan bahwa disamping kebahagiaan, kesejahteraan agregat yang terdiri atas kesejahteraan individu dan usaha juga penting dalam menentukan besaran indeks end-user LPDB sehingga peranannya tidak dapat dikesampingkan.

 

  1. Analisis Hasil AHP Pembobotan Nasional

Berdasarkan hasil FGD di seluruh Indonesia, indikator kebahagiaan mencapai bobot paling besar yakni 43,18%. Hal ini mengimplikasikan bahwa kedua indikator ini lebih penting bagi end-user LPDB daripada indikator terakhir yakni indikator kesejahteraan usaha dengan bobot 29,82% dan indikator kesejahteraan individu yaitu sebesar 27,01%. Kondisi secara nasional dapat berbeda dengan kondisi regional karena setiap responden dapat memiliki kontribusi yang berbeda-beda terhadap keseluruhan penilaian, dalam kata lain tidak memiliki bobot kontribusi yang sama terhadap penyusunan bobot.

 

Nilai indeks kesejahteraan individu untuk end-user LPDB secara keseluruhan dari sampel empat wilayah adalah sebesar 0,83. Nilai ini jauh berada diatas batas tingkat kesejahteraan individu yaitu 0,33. Hal ini berarti tingkat kesejahteraan individu end-user LPDB dari dimensi kesehatan, pendidikan, dan standar hidup sangat baik. Adapun beberapa indikator yang masih belum dipenuhi oleh sebagian besar responden adalah belum memiliki alokasi dana kesehatan. Sementara dari sisi pendidikan sudah dipenuhi oleh sebagian responden kecuali di daerah Jawa Timur, hal ini terkait dengan sebagian besar responden berprofesi sebagai petani tebu. Dimensi standar hidup juga telah dipenuhi oleh sebagian besar responden di seluruh wilayah.

Nilai indeks kesejahteraan usaha end-user LPDB secara keseluruhan di empat wilayah adalah 0,56. Nilai ini masih cukup jauh dari nilai maksimal yaitu 1, artinya bahwa masih banyak diperlukan upaya peningkatan untuk memperkuat kapasitas UMKM agar dapat naik kelas. Indikator yang perlu mendapat perhatian adalah sebagian besar end-user masih belum memiliki legalitas usaha dan tidak memiliki ijin usaha formal. Selain itu sebagian besar responden juga tidak mencatat peningkatan jumlah tenaga kerja yang mengindikasikan skala usaha yang tidak bertambah besar. Hal ini didukung oleh temuan bahwa sebagain besar responden tidak mengalami peningkatan penjualan dan keuntungan dalam kurun waktu setahun terakhir. Indikator lain yang masih belum dapat dipenuhi adalah dari ketertiban administrasi keuangan, dimana sebagian besar responden tidak memiliki pencatatan keuangan dan tidak memisahkan rekening usaha dengan rekening pribadinya.

Indeks kebahagiaan untuk keseluruhan sampel mengalami peningkatan dari tiga tahun lalu sebesar 77 menjadi 81 di masa kini dan 84 di tiga tahun mendatang. Temuan ini mengindikasikan bahwa responden memiliki optimisme bahwa kehidupannya akan lebih bahagia di masa depan. Optimisme merupakan faktor penting bagi seorang wirausahawan. Namun apabila dilihat dengan rinci prioritas hidup yang utama adalah terkait dengan kesejahteraan, keharmonisan dan kesehatan keluarga. Memperbesar usaha tidak menjadi prioritas utama namun menjadi pengusaha besar masuk ke dalam 10 besar prioritas. Temuan penting lainnya adalah, responden menempatkan kepemilikan tabungan sebagai salah satu prioritas utama yang mengindikasikan adanya kesadaran untuk menabung oleh responden